Achmad Hamami, Dari Karir Militer ke Bisnis

Nama Achmad Hamami merupakan nama baru dalam daftar orang terkaya Indonesia yang dirilis oleh Forbes. Pria yang memiliki empat orang anak tersebut berhasil menempati posisi nomor tujuh orang terkaya di Indonesia dengan total harta mencapai US$ 2,2 Miliar. Memang keluarga ada di balik kisah suksesnya bahkan kini anak-anaknya; Mivida, Muki, Ana dan Bari lah yang menjalankan bisnisnya. Menjadi pengusaha pada awalnya bukanlah merupakan cita-cita Achmad Hamami. Ketertarikannya ke dunia militer membawa pria yang kini berusia 81 tahun tersebut menjadi anggota jajaran penerbang TNI Angkatan Laut.

Di saat muda, Hamami sempat menempuh pendidikan militer sebagai di Angkatan Udara Belanda dan bahkan berhasil lulus sebagai kolonel termuda pada akhir tahun 1960. Kondisi tempat kerjanya yang marak dengan korupsi membuatnya memutuskan untuk keluar sebagai anggota militer dan memulai bisnis kecil-kecilan di rumahnya dengan membuka kursus matematika bagi anak-anak. Sebagaimana dilansir dari Forbes.com mengenai Profil Achmad Hamami, kesuksesan bisnis Hamami berawal pada tahun 1970 ketika mendirikan PT Trakindo Utama. Reputasi Hamami yang bersih ketika berkarier di dunia militer membuat perusahaan alat berat asal Amerika Serikat, Caterpillar melirik perusahaannya sebagai distributor resmi Caterpillar di Indonesia. Pada 13 April 1971, Trakindo Utama milik Achmad Hamami akhirnya resmi menjadi agen Caterpillar.

Untuk mendukung usahanya, Achmad Hamami yang berlatar belakang militer mulai belajar mengenai dunia bisnis. Seiring dengan peningkatan pembangunan infrastruktur di Indonesia pada tahun 1970-an, maka keuntungan PT Trakindo Utama sebagai salah satu pendukunya pun ikut meningkat. Bahkan Achmad Hamami mendirikan beberapa anak perusahaan yang ditujukan untuk mendukung bisnis Trakindo Utama nantinya seperti PT Sanggar Sarana Baja di tahun 1977 dan PT Chandra Sakti Utama Leasing pada 1995.

Ketika krisis moneter mengguncang Indonesia, PT Trakindo Utama turut merasakan dampaknya. Ketika itu Achmad Hamami harus berada pada kondisi sulit karena perusahaannya memiliki hutang besar hingga mencapai US$ 118 juta ditambah dengan tidak adanya bank yang bisa memberikan pinjaman untuk menggerakkan bisnis Trakindo Utama. Ditambah lagi, kesehatan Achmad Hamami yang ikut menurun seiring dengan menurunnya bisnis Trakindo Utama. Achmad Hamami menderita glaukoma dan mengalami kebutaan. Kondisi ini menjadikannya memilih untuk menyerahkan perusahaan kepada Rachmat Mulyana atau Muki, putra ketiganya. Meskipun demikian, Hamami masih merupakan nahkoda di balik kebangkitan Trakindo Utama pasca krisis.

Leave a Reply